Tetangga

Posted on Agustus 12, 2023

0


Photo by Beth Macdonald on Unsplash

Hari ini saya berkenalan dengan tetangga baru. Namanya Cindy. Ia sedang jalan-jalan sore dengan anjingnya yang bernama Maisy. Rupanya Maisy langsung mengklaim bidang rumput dekat pohon di depan condo milik kami. Libby, kucing kami, memandang Maisy dengan jengkel, karena bidang rumput itu juga tempat bermainnya.

Cindy baru dua hari pindah ke condo yang tadinya ditempati oleh Chuck dan Willy. Chuck dan Willy adalah pasangan lansia yang ramah sekali. Terutama Willy, istrinya. Ia dikenal sebagai “The Bird” di lingkungan condominium ini, karena orangnya gemar mengobrol dan gemar menyambungkan berita. Ada saja gosip yang diceritakannya tentang para penghuni kompleks condominium ini. Jadi kalau kepo dengan salah satu tetangga tapi tidak mau ketahuan, biasanya orang-orang memanfaatkan Willy untuk mengorek info. Yang dikorek sih rela-rela aja. Sebab diam-diam sebetulnya banyak yang ingin diajak ngobrol dan ingin memberitahu tentang diri mereka ke orang lain, cuma terhalang gengsi aja. Tidak heran, ketika Willy meninggal beberapa tahun lalu, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Tidak ada lagi “si burung” yang suka menciap-ciap relay berita. Tidak ada lagi yang ditunggu oleh orang-orang untuk jadi penyambung gosip.

Chuck sudah berumur sekitar 90 tahun. Itu usia saat terakhir kali kami bertemu dengannya sekitar 3 bulan lalu. Ia setia sekali dengan istrinya. Setelah istrinya wafat, ia melanjutkan kebiasaan yang dilakoni sebelumnya dengan istrinya, yakni jalan-jalan bersama anjingnya setiap sore. Kebiasaannya baru terhenti setelah ia jatuh dan harus menjalani operasi lutut. Tetapi tak lama kemudian ia lanjut lagi jalan-jalan tiap sore, dengan didampingi oleh perawatnya.

Chuck adalah generasi Baby Boomers. Ia pernah bekerja di pabrik mobil terbesar di Amerika, yakni General Motor. Kemudian ia pensiun, dan sesekali mengisi waktu untuk memberi training komputer di perusahaan tempat dia bekerja dulu. Hidupnya tenang. Ia suka menghabiskan liburan bersama keluarganya di rumah kayu (cabin) dekat danau. Biasanya ia memancing bersama anak-anaknya yang lelaki. Anak perempuannya satu, dan punya anak adopsi dari Cina.

Willy, istrinya, adalah imigran dari Belanda. Ia migrasi ke Amerika melalui Kanada, bersama orangtuanya. Orangtuanya memutuskan pindah agar bebas dari Nazi, yang waktu itu menguasai Belanda.

Willy sempat mengalami masa pendudukan Nazi. Saat itu, tiba-tiba desa tempat tinggalnya kejatuhan bom. Ada lubang menganga besar sekali di dekat gereja, dan kaca gereja yang berwarna-warni pecah berhamburan di sekitarnya.

Itu pengalaman mengerikan. Tetapi yang lebih mengerikan adalah ketika pasukan Nazi memerintahkan semua penduduk laki-laki di desanya untuk keluar dan berjejer rapi di depan rumah. Katanya, mereka akan dibawa ke sebuah tempat. Kelak Willy tahu bahwa tempat yang dimaksud adalah camp Nazi, tempat di mana jutaan orang Yahudi dibunuh. Ia bercerita bahwa tetangganya yang patuh pada perintah itu, tidak pernah kembali lagi. Bisa jadi mereka sudah mati, atau kulitnya dikupas untuk jadi bahan kap lampu, kata Willy.

Ayah Willy bersembunyi di ruang bawah tanah yang hanya cukup dimasuki oleh satu orang saja. Ketika tentara Nazi bertanya pada keluarganya, mereka menjawab bahwa tidak ada laki-laki di rumah itu. Para tentara itu tidak percaya. Mereka merangsek rumah orangtua Willy dan masuk ke kamar. Mereka menusuk-nusukkan pedang ke kasur dan bantal, untuk memastikan tidak ada yang bersembunyi di baliknya. Setelah itu, mereka pergi.

Malam harinya, ayah Willy akan mengendap-endap keluar untuk mencuri sekantong dua kantong kentang yang disimpan di gerbong kereta milik Nazi. Perang itu kejam. Nyaris tidak ada makanan tersisa, karena semua dirampas oleh Nazi. Bahan bakar langka. Orang-orang mulai melucuti pintu rumah untuk dijadikan kayu bakar. Penduduk makan apa saja, bahkan umbi bunga tulip, kulit kentang yang dibuang di tong sampah, kucing dan anjing. Jaman itu, kucing dan anjing bisa tiba-tiba lenyap karena ditangkap oleh penduduk untuk dimakan. Suatu ketika, saat makan di restoran dan mendapati menu appetizer berupa kulit kentang panggang yang ditaburi keju, Willy tertawa. Jaman dia kecil, itu makanan langka. Tapi jaman sekarang, kulit kentang jadi makanan mewah yang berharga cukup mahal.

Saya merasa dekat sekali dengan Willy. Ia ramah dan murah senyum. Sekaligus juga mudah menangis. Apalagi kalau bercerita tentang masa lalu. Tentang orangtuanya, tentang kakeknya yang penjahit jubah Paus sang pemimpin Vatikan. Kalau jubah itu sudah selesai dijahit dan disulam, maka kakeknya akan mengantar jubah itu ke Vatikan dengan berjalan kaki. Ia sangat puas melakukan itu, meskipun tidak menghasilkan uang sama sekali. Ayahnya menganggap itu sebagai bagian dari laku spiritual.

Willy juga pernah bercerita tentang saudara-saudara ibunya yang banyak, dan mereka hidup kekurangan sampai ada yang meninggal karena kurang gizi. Rose, ibu Willy, termasuk yang paling sehat, paling sigap mengambil makanan terlebih dahulu, dan paling banyak makannya. Mungkin itu sebabnya ia berumur lebih panjang ketimbang saudara-saudaranya yang lain.

Salah satu yang disukai Willy adalah memberi makan tupai dan burung liar. Ia menaruh tempat berisi biji-bijian kecil dengan rapi dan tersembunyi di antara dahan pohon maple depan condo-nya. Ia cekikikan ketika bercerita tentang itu. Aturan di kompleks condo kami tidak memperbolehkan penduduknya untuk memberi makan binatang liar, sebab akan mengundang tikus. Jadi Willy melakukannya dengan diam-diam.

Willy wafat karena sakit kanker, yang bolak-balik kambuh. Sekali di-chemo, katanya sudah hilang. Kemudian muncul lagi. Chemo lagi. Hilang, dan muncul lagi. Ia pernah diwawancarai tivi lokal sebagai survivor kanker. Namun ternyata memang hidupnya berakhir dalam penyakit itu. Pernah saya iseng menghitung nama dan tanggal kelahirannya dengan teknik Numerologi yang saya kuasai. Hasilnya, semua positif. Tidak ada tanda merah, tidak ada indikasi bahwa ia akan mengalami sakit parah atau dioperasi. Tetapi kenyataannya, ia meninggal karena penyakit berat. Jadi setelah itu, saya tidak terlalu percaya dengan Numerologi. Ia bukan indikator yang valid. Beberapa orang yang saya kenal juga punya hitungan numerologi yang sangat selaras. Namun hidup mereka kacau dan penuh problem berat.

Chuck sudah pindah. Kabarnya, ia tinggal di assisted nursing home, yakni panti jompo dengan fasilitas khusus terutama berupa perawat dan dokter. Tinggal di rumah jompo bukanlah aib di sini. Itu normal. Mindset para lansia di sini demikian. Jika sudah tak mampu mandiri tinggal di rumah sendiri, mereka akan memilih panti jompo. Jarang sekali yang mau tinggal dengan anak-anaknya. Chuck sendiri pernah mencoba tinggal bersama salah satu anaknya. Kurang dari sebulan, ia minta kembali ke condo. Katanya, tinggal bersama anak dan menantu itu ribet. Apa-apa serba diladeni. Bikin popcorn saja dibikinin. Alhasil dia lebih banyak duduk tanpa melakukan apapun, dan itu sungguh membosankan, kata dia.

Sekarang, selang tiga bulan saja sejak Chuck pindah, sudah ada penghuni baru. Ya si Cindy ini. Saya suka dengannya. Rupanya condo itu berjodoh dengan penghuni baru yang mirip karakteristiknya dengan penghuni sebelumnya. Inilah uniknya konsep jodoh. Setiap orang akan tertarik tinggal di tempat yang sesuai dengan jiwa mereka, dan tertarik dengan orang yang punya kemiripan dengan mereka. Kayaknya sih, nanti blok condo ini akan kembali ceria seperti sebelumnya, karena ada tetangga baru yang ramah ini.

Ditandai: ,